Jumat, Januari 08, 2010

NO THANX!

Bukan bermaksud tidak menghargai para perokok di luar sana yang sama sekali belum berempati pada orang disekelilingnya yang tidak merokok, saya benar-benar hilang akal kalau yang melakukan hal ini justru para petinggi negara, pejabat, sarjana, wartawan, dan semua orang yang mengakui dirinya kaum teredukasi. Adalah saat saya bekerja sebagai reporter, kedongkolan mendalam serius saya derita karena decak kagum saya terhadap 'kebodohan permanen' yang teman-teman satu profesi lakukan yaitu merokok sembarangan! memang larangan merokok bukan terdestinasi untuk tidak merokok sama sekali, tapi hanya mengatur tempat merokok...tapi kenapa beberapa oknum ini yang boleh saya tulis adalah rekan kerja saya (yang katanya adalah 'gudang ilmu a.k.a perpustakaan berjalan) yang jelas tahu ada perda Kawasan Dilarang Merokok (KDM) jarang menggubris aturan ini. KDM hanya mengatur bukan melarang merokok sama sekali, koq hal yang sama sekali tidak rumit ini susah diapresiasi ya???

Yayayaya...sekelumit sisipan cerita tadi tidak akan saya bahas lebih lanjut karena hanya menambah deret kesal tanpa ada data pencilan. Merokok memang pilihan, tapi pilihan ini tidak harus dong berbenturan dengan hak orang menghirup udara tanpa racun nikotin. Smoke Smart, (even u never look smart with smoke though). Saat liputan di Mabes Polri suatu hari, salah satu wartawan sempat bertanya "...din, syarat jadi pacar atau suami kamu apa siy?, yang saya tahu kamu belum punya pacar ya..?" dengan lantang saya menjawab "..yang boleh mas tahu cuma syarat awal ya,,,dia ga ngerokok!" dia pun tertohok menahan tawa karna disana kumpulan wartawan sibuk ngebul semua. "Waduh padahal ada yg mau aku comblangin lho, anak anggota DPR lagi cari istri, mmmmmmmm tapi dia ngerokok din, mau?" i said NO THANX!

Selasa, Desember 15, 2009

pack the unpacked

I bet it took a while, the freedom that make her smile
Change is the best way that she can get, move and run faster without regrets
With her suitcase walk in the same track, run in the track ball make her always look back
Suitcase is not enough, she already have the valise to make her tough
So, she needs a footlocker, pack all the unfinished 'dress' it could be better
Pack the unpacked sister... it may a remedy but it tasted bitter

Selasa, Desember 08, 2009

Tapos:antara susu dan pulsa

Mengetahui tempat yang akan saya datangi adalah sebuah kecamatan baru di Depok memang bukan sesuatu yang esensial dalam posting ini, Tapos adalah satu dari lima kecamatan baru hasil pemekaran sehingga jumlah kecamatan di salah satu kota termuda di provinsi Jawa Barat ini menjadi sebelas. Ke Tapos pula, saya dan beberapa rekan dari Ikatan Abang Mpok Depok (IKAM) di undang oleh Lembaga Kajian Pembangunan Daerah (LKPD) Kota Depok untuk ikut 'meramaikan' kegiatan program penyuluhan dan peningkatan kesehatan balita yang sudah rutin digelar. Saya tergiur untuk menyaksikan langsung kegiatan LKPD yang menggandeng salah satu BUMN sebagai satu bentuk CSR-nya ini, karena ada pembagian susu gratis untuk para balita. Everythings with milk and babies are gorgeous.
Menurut info yang saya dapat dari LKPD, rata-rata ibu yang memiliki balita di daerah Tapos adalah ibu-ibu muda seumuran saya. Saya tercengang lagi setelah tahu bahwa ibu-ibu muda ini rela menukar & menjual susu yang diberikan gratis dengan pulsa hp yang kini jadi kebutuhan primer diatas susu anak. Keingintahuan saya mendalam akan motif ibu-ibu muda ini bertindak irasional karena posisi susu anak sudah bisa digantikan pulsa hp yang mereka gunakan untuk sekedar beremeh-temeh dengan teman (sekali lagi mereka masih muda dan perlu bergaul dengan sebayanya), i got it!
Tapos, 29 Oktober 2009...saya & viqi (2008) juga gilang, merry, mumu, dan rizky (2009) tiba di tempat tujuan dengan tenda yang sudah siap terpasang. Dibawahnya berderet ibu-ibu kepanasan (yang memang masih muda) menggendong anak mereka plus ingus yang lupa terseka. "Dina...itu sudah banyak lho ibu-ibu yang datang, mereka kemarin bilang ke saya seneng kalau dilihat abang mpok depok..", itu kalimat pertama yang keluar dari pribadi yang penuh tauladan Ibu Novy (LKPD), sesaat setelah mobil kami terparkir di lahan kosong di depan tenda acara. Tatapan ibu-ibu ini terbalas dengan senyum kami yang sudah jadi 'trademark', karena memang target kami di datangkan adalah 'penggembira'. Tapi kalau memang ada efek menggembirakan dan memperngaruhi, saya rela tak tersubsidi waktu dan energi untuk bisa merubah pola pikir ibu-ibu yang berani menggadaikan gizi anak dengan kebutuhan sekunder belaka.
- Panitia Pelaksana (LKPD, PKK, dll) & IKAM -



- IKAM & generasi penerus yang akan membangun Tapos -

- jangan dituker pulsa ya bu...-
Mengerti bahwa pulsa dan hp sudah bukan lagi kebutuhan tersier yang menjadi tuntutan zaman, tapi inilah fakta bahwa pendidikan menentukan pola pikir dan sikap seseorang untuk hidupnya. Ibu-ibu muda ini mungkin rata-rata hanya berijazah maksimal SMA, tapi mensubstitusi kesehatan anak dengan sms & telepon juga menjadikan susu anak hanya angan-angan karena alasan ekonomi, benar tak masuk akal!!!
Tidak bijak memang menyalahkan realitas ekonomi secara agregat untuk kasus ini, tapi jika boleh berandai untuk sebuah solusi...si penanggung jawab pastinya adalah pendidikan dasar di rumah dari orang tua yang mengawal ibu-ibu muda ini yang tadinya adalah anak sama seperti anak-anak mereka saat ini. Solusi yang tidak terspesifikasi untuk kasus diatas, tapi masiv dampaknya untuk merubah pola pikir kebanyakan kita yang masih hidup mengatasnamakan gengsi, latah, dan ego. Semoga setelah program ini dijalankan rutin, ibu-ibu muda disini menyadari makna 'susu sehat sukses' dan mampu menghadiahi kota ini generasi yang sehat jiwa raga, Amin!


Jumat, November 27, 2009

A Rendezvous with Miss Universe 2009

October 10th 2009, A Date with Steffania Fernandez in Sakura Matsuri @ Hotel Nikko Jakarta
asri aldina & steffania fernandez
One Shot, they give a chance to be the moderator of the talkshow. For a new comer like me, its a huge moment. But i still have a question, why she didn't want to answer about MDGs question? mmm, maybe the 'queen' forgot to recall the 8 goals...
as antv reporter, i was conducted the talkshow

Senin, Juli 20, 2009

it's deep, personal (No.2)

when mine is taking.... i'm happy with the arrival of 'no beginning and ending'. i'm passionately determined to end this estrangement. i'm thinking straight that words can never do enough, when mine is taking (again) .... is all about the worst kind of suffering. i'm happy with the arrival of new chapter, i'm passionately determined to wrap this pain. i'm thinking straight that mine is taking.

Selasa, Juli 07, 2009

positioning positioning

Sebuah event tahunan berhasil tergelar pada tgl 4 - 7 juni 2009 yang lalu, bernama Gebyar Wisata Nusantara dimana seluruh kabupaten/kota di Indonesia berunjuk potensi akan budaya dan pariwisata yang dimiliki. Para duta pariwisata dari masing-masing daerah pun tak lupa dibawa sebagai spoke person dan daya tarik tertentu. Saya dan erwin (abang mpok depok 2008) terpukau dengan banyaknya duta-duta wisata yang hadir disana, keterpukauan ini juga berlanjut untuk niat seluruh dinas pariwisata setiap daerah demi mempercantik stand pameran mereka. Ada yang telah matang terkonsep ditambah anggaran menghias yang memadai ada juga yang dengan konsep serta anggaran seadanya. Dalam kacamata saya, exhibition ini benar-benar memperlihatkan daerah mana yang serius 'jualan' & menggarap pariwisatanya dengan baik dan daerah mana yang cuma menjadikan event ini tak kurang dari sebuah agenda semata.
Beberapa duta pariwisata seluruh Indonesia di Gebyar Wisata Nusantara 2009 di JCC Jakarta, 4 Juni 2009.

Why this posting called "positioning positioning"? i do care about my city & its tourism potency. Menyaksikan sendiri bagaimana beberapa kabupaten/kota yang menjadi peserta exhibition menggarap serius konsep 'jualan' mereka menggelitik pikiran ini untuk berproses dan memikirkan apa dan bagaimana seharusnya Kota Depok mengelola pariwisata dan menjadikan ilmu marketing sebagai dasar teori dalam mempromosikan potensi budaya dan wisata yang ada. Karena 'background' pendidikan saya adalah manajemen dengan konsentrasi marketing, saya paham konsep sederhana yang keluar dari mbah dewa-nya marketing Indonesia dan dunia Hermawan Kartajaya (HK). Dalam hal ini, orang-orang yang berkecimpung dalam mempromosikan pariwisata hendaknya mengerti konsep dasar pemasaran dari beliau, kalau memang punya niat besar untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai pendongkrak ekonomi masyarakat sepertinya teori HK bukan hal yang sulit diterapkan.

Teori STV triangle (Strategy, Tactic, Value) merupakan hal dasar yang kerap dieksekusi dalam suatu manajemen instansi/organisasi dalam 'berjualan'. Tanpa merendahkan nilai pariwisata, seni dan budaya sebagai komoditas belaka, saya menggunakan kata 'jualan' karena memang dalam era ekonomi kreatif sebagai orientasi perekonomian dunia saat ini, all we need to do is selling the concept in a right direction. Pariwisata, seni, dan budaya berdiri sebagai ujung tombak perekonomian disaat sektor-sektor lain kolaps karena krisis. Depok juga harus mampu menerapkan teori ini dalam mengembangkan sektor pariwisata nya karena di sisi lain kota/daerah lain seperti jakarta, bandung, garut, kuningan, padang, solo, jogja, bali, lombok, dan yang lainnya telah melaksanakannya dengan baik.

erwin (abang depok 2008), anggie (mojang kab.garut 2008), andi (jajaka kab.garut 2008), and me (mpok depok 2008). 'the spirit of youth of west java - from west to south'

Di dalam komponen STV, lingkaran strategy terdiri dari segmentation, targeting dan positioning. Saya tak melihat segmentation dan targeting sebagai jawaban pembenahan karena memang segmen dan target pasar Depok sama dengan kota lainnya, yaitu masyarakat lokal, nasional, dan dunia. Positioning yang tepat merupakan hal yang patut di lakukan Depok untuk menaikan 'pangkat' sektor pariwisata lokal. Bila Bandung sudah terstigma dalam posisi 'paris van java', jakarta dengan tagline 'enjoy jakarta', garut yang tersohor dengan 'domba garut'-nya, bali dengan (u name it, bali has everything), semua kota yang pariwisata nya maju pasti telah melakukan positioning dengan tepat. Sudah terlanjur dikenal dengan istilah 'belanda depok' atau pun dengan sebuah mesjid yang ternama Kubah Emas (Mesjid Dian Al-Mahri, tujuh dari mesjid berkubah emas di dunia) , Depok juga merupakan kota pendidikan dimana Universitas Indonesia berada, Belimbing Dewa yang telah 'esteblished' menjadi 'icon' juga merupakan potensi agrowisata yang tengah digembar-gemborkan. Namun jajaran potensi ini belum lah cukup tanpa positioning yang jelas. Akan 'dipasarkan' sebagai kota yang bagaimanakah masih menjadi pertanyaan karena memang kota warisan Cornelis Chastelein ini memiliki eksotika sejarah yang belum dijadikan daya pikat wisata.

Konon berawal dari seorang Belanda Cornelis Chastelein masyarakat Depok terbentuk dari 12 marga (Bacas, Isakh, Jacob, Joseph, Jonathans, Loen, laurens, Samuel, Soedira, Tholense & Zadokh). Dari asal-usul nya saja kota ini sebenarnya sudah memiliki posisi sebagai kota wisata sejarah dengan nuansa kolonial lengkap dengan bangunan-bangunan tua khas Belanda. Ditambah lagi keunikan betawi nan kental secara kultural dengan budaya sunda sebagai jati diri administratif membuat kota ini semakin heterogen dan berkarakter. Mungkin sumberdaya pemerintah dan para stakeholder pariwisata, seni dan budaya kota ini harus belajar dari negeri seberang Singapore yang memang tak memiliki banyak keindahan 'mother nature' yang siap dijual namun dengan kejelian menangkap kebutuhan pasar akan arti wisata mereka berubah menjadi negeri impian para pelancong dunia.

Kota ini harus hati - hati dalam melakukan positioning, karena kalau salah bukan saja dicap sebagai sekedar sub-urban yang serupa dengan Bekasi tetapi juga kota yang 'abu-abu'. Topeng Cisalak dan Gong Sibolong adalah unsur intrinsik seni yang harus dijadikan dewa dalam setiap agenda wisata, karena memang kesenian inilah yang menjadi identitas salah satu kota termuda di Jawa Barat ini. Dengan kenyataan sebagai kota dengan IPM tertinggi di Jawa Barat, saya optimis pemerintah dan seluruh jajarannya akan dengan pasti mentukan konsep positioning Kota Depok dengan bijak. Kearifan lokal dan kesantunan masyarakatnya sebagai bagian dari alat pendorong majunya pariwisata Depok setelah manajemen marketing diaplikasikan dengan sempurna, seyogyanya mampu mencitrakan kota ini sebagai miniatur Indonesia yang siap 'dijual'. Dyne with love.

Minggu, Juli 05, 2009

i want it!!!

Mungkin ini sebuah karya lama dari seorang genius musik, 'the mother of R&B invention' Lauryn Hill.

Her songs, her words, now her book...buat saya tak ada penyanyi wanita yang memiliki kedalaman 'nilai' seperti ini selain LH.

I want this book so much, as much as i want meet & sing with her!!!

"The Middle Man" a poem from LH, this is a book that i want the most this month.

Selasa, Juni 30, 2009

Call The Kindness

Secara parsial, punya adik yang masih abg memang ga melulu ketar-ketir karena takut dia 'icip' hal kotor yang terlihat indah diluar sana, setidaknya saya bisa lihat apa yang dia baca dirumah merefleksikan 'point of view' nya anak remaja yang baru beberapa tahun lalu saya lalui ;D. Bacaan adik ku ini ga jauh berbeda dengan kita generasi yang lahir di tahun 80-an, karena ingin nostalgia dengan majalah yg kerap ku beli ketika smp maka terjelajahilah lembar demi lembar. Saya menemukan beberapa hal baik dari dua lembar paling berbobot dalam majalah itu selain halaman gossip dan fashion (in my point of view). Dalam dua lembar itu saya berhenti dan membaca berkali-kali tentang beberapa gerakan sosial didunia ini yang ternyata sepele tapi berdampak 'magis' dalam membawa kebaikan. Lately we do need all the kindness, because nowdays life's to rude to be true and we need to call the kindness.
Beberapa gerakan dan aksi sosial yang nampaknya kadar kerumitannya rendah tapi level ketidakmauan manusia kota untuk melakukannya tergolong tinggi. Dengan beberapa penggal bolu moka dan secangkir besar teh manis hangat....it's kind of good absorption:reading the headline 'happiness is only real when shared'. Ini saatnya belajar dari seorang Juan Mann, Catherine Ryan Hyde, Marshall Gray & Josh de Jong, Harvey Ball, and Improv Everywhere. Yes, i wanna share 'em, bcoz i just wanna share.
1. Free Hugs Campaign
Sometimes, a hug is all what we need. Free hugs is a real life controversial story of Juan Mann, A man whos sole mission was to reach out and hug a stranger to brighten up their lives.In this age of social disconnectivity and lack of human contact, the effects of the Free Hugs campaign became phenomenal.As this symbol of human hope spread accross the city, police and officials ordered the Free Hugs campaign BANNED. What we then witness is the true spirit of humanity come together in what can only be described as awe inspiring. In the Spirit of the free hugs campaign, PASS THIS TO A FRIEND and HUG A STRANGER!
How it all started:He'd been living in London when his world turned upside down and he'd had to come home. By the time his plane landed back in Sydney, all he had left was a carry on bag full of clothes and a world of troubles. No one to welcome him back, no place to call home. He was a tourist in his hometown. Standing there in the arrivals terminal, watching other passengers meeting their waiting friends and family, with open arms and smiling faces, hugging and laughing together, he wanted someone out there to be waiting for him. To be happy to see him. To smile at him. To hug him. So he got some cardboard and a marker and made a sign. He found the busiest pedestrian intersection in the city and held that sign aloft, with the words "Free Hugs" on both sides. And for 15 minutes, people just stared right through him. The first person who stopped, tapped him on the shoulder and told him how her dog had just died that morning. How that morning had been the one year anniversary of her only daughter dying in a car accident. How what she needed now, when she felt most alone in the world, was a hug. Juan Mann got down on one knee, they put their arms around each other and when they parted, she was smiling. Juan Mann : "Everyone has problems and for sure mine haven't compared. But to see someone who was once frowning, smile even for a moment, is worth it every time".
Memang budaya meluk orang sembarangan bukan kultur orang timur, tapi dengan adanya fakta bahwa pelukan dapat menyembuhkan masalah fisik dan emosional sepertinya sedikit mengubah persepsi kita akan hal yang bukan 'kebiasaan timur', dan wajar bahwa gerakan ini sudah mendunia seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Spanyol, Taiwan, Italia dan Buenos Aires.
2. Pay It Forward

The Pay It Forward Foundation was established in September 2000 by author Catherine Ryan Hyde and others to educate and inspire students to realize that they can change the world, and provide them with opportunities to do so. By bringing the author's vision and related materials into classrooms internationally, students and their teachers are encouraged to formulate their own ideas of how they can pay it forward, (www.payitforwardorganization.org). Melakukan hal-hal baik adalah inti dari aksi ini, diadopsi dari novel Catherine Ryan Hyde yang juga difilmkan dengan judul yang sama. Perlu dicatat dalam konsep PIF, setiap kali kita berutang budi pada orang lain maka kita harus meneruskan kebaikan itu kepada orang lain, bukan kepada orang yang sama. "You can never pay back; but you can always pay forward." (Wayne Woodrow Hayes).

3. Random Act of Kindness
Doing the good things without any reasons. Ide aksi ini memang simpel, Marshall Gray & Josh de Jong mengajak orang-orang berbuat kebaikan tanpa perlu ada alasan dan tanpa mengharap imbalan. Random Act of Kindness Day jatuh tiap tanggal 1 September. Saya rasa banyak makna dari aksi ini, kita wajib berkaca tanpa terkecuali capres yang berkutat dengan kampanye pun tak pernah menebar janji manis membawa perubahan dan kebaikan tanpa berharap 'imbalan' rakyat akan memilih. They should join the cause!

4. World Smile Day

As is well known by now throughout the world Harvey Ball, a commercial artist from Worcester, Massachusetts created the smiley face in 1963. That image went on to become the most recognizable symbol of good will and good cheer on the planet. As the years passed Harvey Ball became concerned about the over-commercialization of his symbol, and how its original meaning and intent had become lost in the constant repetition of the marketplace. Out of that concern came his idea for World Smile Day®. He thought that we, all of us, should devote one day each year to smiles and kind acts throughout that world. The smiley face knows no politics, no geography and no religion. Harvey’s idea was that for at least one day each year, neither should we. He declared that the first Friday in October each year would henceforth be World Smile Day®. The very first World Smile Day® took place in Worcester, MA on October 1, 1999. What a celebration it was! State and local dignitaries gathered and read proclamations in support of the day. Another proclamation recognizing the day was read on the floor of the United States Congress and is now part of the Congressional Record, the reporter of the official proceedings of the US Congress. Thousands of Worcester school children created World Smile Day® cards that were then delivered to area hospitals and nursing homes. The event became national and even international news. The US Postal service came to Worcester that day to unveil its new Smiley Face stamp design. And, the Postal Service issued a special cancellation just for that event. Each year since then the USPS has issued a different cancellation commemorating the day.
In his inaugural address on that very first World Smile Day® Harvey Ball laid the groundwork for that World Smile Day® saying that the smiley face “…just reflects what is inside every one of us – a smile is what we want to see when we look at another human being.” He said, “Sometimes we forget that. Sometimes the world seems big and filled with problems that are too hard to understand much less solve. We start to believe that we are too small to make a difference. But that’s not true. The truth is that every one of us has the ability to make a difference every day.” .in 2008, the Harvey Ball World Smile Foundation has teamed up with the famous Eleni’s Bakery in Manhattan to send packages of smiley cookies to US soldiers serving overseas.
5. High-Five Escalator - Improv Everywhere
Improv Everywhere causes scenes of chaos and joy in public places. Created in August of 2001 by Charlie Todd, Improv Everywhere has executed over 80 missions involving thousands of undercover agents. The group is based in New York City. Agent Lathan gave out 2,000 high fives by standing next to a subway escalator during the morning rush. Five additional agents spread out along the adjacent stairs, holding signs that prepared commuters for the upcoming high five fun. It was awesome watching the reactions of people before, during, and after the high fives. I’d say around 75% of the riders gave Rob a high five.

There were some people who were both listening to music and reading a book who didn’t look up to notice what was going on. A small percentage seemed suspicious of us and elected to keep their hands to themselves. Most people smiled and high fived. Some people kept a straight face during the high five, but then privately smiled to themselves a few moments later. Watching people after they gave a high five was almost more fun. Almost everyone was left with a smile.

Menyebarkan kebaikan memang mudah, mereka semua kepatutan yang wajib ditiru. From silly simple things we can share all the kindness. Inilah (lagi-lagi) kemurahan Allah SWT yang tidak pernah menyulitkan umatNya dalam menebar kebaikan. Im thrilled!

Jumat, Juni 26, 2009

beat up the depfest

Festival Depok, 12-21 june 2009 'Abang Mpok Depok 2008 still on the go'

Launching Batik Depok - Dekranasda Kota Depok & IKAM (Ikatan Abang Mpok Kota Depok)

After All, we just sticked with commitment that we're ambassador, and we trully made it. No matter how hard the barrier, no matter how pissed we are, fed up with the facts that 'they' still dont understand what does 'ambassador' means. Yes right, we belongs to this beloved city, but one thing for sure we do have the quality.

Rabu, Juni 03, 2009

one thing is missing from adb bali 2009

Nusa Dua Bali 1-4 May 2009, Annual Meeting Asian Development Bank 2009
Dipercaya untuk bertugas sebagai mojang jawa barat di adb bali 2009 memang bisa dibilang 'huge' experiences, dina (kota depok), anggi (garut), rizky (kota sukabumi), dan dana (kab.bekasi) adalah dua pasang moka jabar 2008 yang diberangkatkan untuk bisa mengemban
amanah sebagai duta pariwisata jabar di tanah bali 'jantung pariwisata' dunia itu.
Ternyata ekspektasi kami akan bisa maksimal mempromosikan pariwisata jawa barat dalam indonesian day exhibition adb bali 2009 harus terbagi karena bukan hanya booth jawa barat saja yang harus mampu kami 'endorse' karena pada faktanya ada dua stand lagi yang meminta moka jabar untuk berperan aktif dalam 'akuisisi' tugas penjagaan. Pada hari pertama exhibition saya dan rizky dipercaya oleh disparbud jabar untuk bertugas di booth visit indonesia 2009 dari kementerian pariwisata dan budaya indonesia dan pada hari kedua kami ditugaskan untuk menjadi 'spoke person' BKPM untuk provinsi jawa barat. Hari ketiga sebelum welcome dinner dengan menteri keuangan RI, kami baru benar-benar menjaga booth jawa barat di area GWK

prep day - booth BKPM - with pak iwa (ka.BKPM jabar), pak khamid (ka.BAPEDA kota depok) & the gank

adb bali 2009 - day 1 - booth kementerian pariwisata dan budaya RI

adb bali 2009 - day 2 - rizky & dyne

adb bali 2009-day 3 - dyne in west java booth @ GWK

Tapi sebenar-benarnya posting saya ini akan fokus terhadap satu kelalaian fatal yg saya dapati di annual meeting sebesar ini. Adalah sesuai judul yang saya sematkan diatas 'one thing is missing from adb bali 2009'....setelah beberapa hari berpatut diri dengan kebaya layaknya seorang indonesia baru hari itu saya 'kebelet' dan sudah tak ada daya untuk pergi ke toilet di dalam hotel westin nusa dua yang letaknya ber-meter-meter diseberang tempat exhibition. Dengan 'kecepatan cahaya' saya bertanya kpd polisi pariwisata bali yang memang 'in charge' berjaga...'pak toilet terdekat dimana ya?' dan beliau secepat kilat menjawab yang rasanya menyejukkan hati ini...'oh, itu dekat sekali koq dipojok setelah pintu keluar' sambil menunjuk beliau juga nyengar-nyengir liat perempuan berkebaya dengan selempang mojang jawa barat lagi buru-buru cari toilet...dan inilah yang saya dapatkan:

so..this is it, harusnya jawaban polisi pariwisata tadi jadi obat mujarab ditengah rasa kebelet tapi penampakan disamping bisa mengubah persepsi orang akan definisi 'kenyamanan toilet di sebuah acara sekaliber asia' dan sempat membuat saya berhenti dan berniat untuk pergi ke toilet hotel diseberang. Saya rasa untuk mempekerjakan beberapa orang untuk bertugas menjaga kebersihan toilet ini bukan hal yang mewah untuk sebuah EO penyelenggara sebuah konferensi internasional. Perlu digarisbawahi bahwa ini adalah salah dua dari toilet paling dekat dengan tempat indonesian day exhibition, dimana semua crew/tim pameran dari negara ASEAN/even all delegates from annual meeting pasti membutuhkannya saat mereka mengunjungi exhibition ini...if the'call' is calling.

Apa kata dunia kalau pencitraan negara kita tercoreng hanya karena menemukan kenyataan 'kotor' nan kecil seperti ini. Harusnya hal sepele dan sekecil ini sudah menjadi list yang sukses dieksekusi dengan baik oleh penyelenggara. Entah ini menjadi tanggung jawab siapa?EO/manajemen hotel/crew exhibition atau siapa pun pastinya mulai detik ini juga perlu menilik kembali makna dari 'great things has a small begining'. dyne with love for indonesia.