Senin, Maret 15, 2010

go 'field'

Why should i call this post with go 'field'?

In fact... i won't open any field like a farmer and even if i finished my bachelor degree in Bogor Agricultural University majoring management in science i won't get wet with mud, i back to my field in management, i feel like come home. Last year i was reporting news and u can see me on tv, but today (March 15) i become an Account Executive in Indosat, underline: i have a new job and noticeably im improving my management skill.  Dina still on the go and i still wanna wave to u on tv.

Kamis, Februari 25, 2010

M is not Bartolomeo Cristofori

dear,
gravecembalo col piano e forte hapsichord...


I can't imagine how can be white and black so perfectly set in life
White and black is not perfect anymore, because after white he give me black
The major to the mineur key, come lead me to the monotonous jive
Today i feel it's nothing more than just a mischievous harmony
If Cristofori make u as a legacy, why he can't give me just another white
If Cristofori can play u as a great melody, why he can't reply just ordinary goodbye
The note is so true piano...M is not Bartolomeo Cristofori

Selasa, Januari 12, 2010

Wapres berbunyi Budi

Disaat kebanyakan orang punya justifikasi sendiri terhadapa 'play safe' ala wakil presiden Boediono saat diperiksa pansus di DPR terkait Century gate, disaat itulah saya mulai melihat karakter sang mantan gubernur BI ini (dari kacamata pemirsa yang rakyat biasa). Posting ini tak beraroma ekonomi apalagi politik, seperti yang sempat saya tulis di status FB bahwa "im not blue (or even red), but tonight i learned about emotion management from mr. vice president..he did it very well!i hope that kind of attitude was imprinted on government policy (read:elegant & modest)".
Ini semua saya lihat jelas di televisi saat ia diperiksa pansus Century Selasa, 12 Januari 2010. Disaat beberapa oknum pansus yang (maaf) bertanya tanpa ada kesantunan layaknya bertanya kepada seorang wakil presiden RI, ditengah teriakan maling oleh Ahmad Laode Kamaluddin seorang aktivis yang sejak dua tahun lalu bergabung dalam Presidium Komite Aksi Pemuda Anti-Korupsi (Kapak) di rapat pansus, dan yang lebih besar diterpa tekanan dari rakyat untuk mundur dari jabatan sebagai orang kedua RI, Pak Budi masih terlihat tenang dan bijaksana dalam mengolah mimik wajah dan tutur bahasa.
Dia tak sedikit pun menunjukan kelemahan manusia yang sedang terpojok dan 'dikeroyok', kalau pun memang melodrama Century sudah diatur sedemikian rupa dan jika memang beliau benar terlibat dalam Century gate, toh beliau setidaknya menjalankan manajemen emosi dengan baik dan menunjukan kepada rakyatnya bagaimana bersikap di depan televisi nasional.
Saya memang bukan psikolog atau seorang yang pernah belajar ilmu membaca air muka, tapi sebagai seorang pemirsa biasa yang sewajarnya mampu menilai guratan kemarahan, Pak Budi sempat terlihat menahan emosi ketika seorang anggota pansus bertanya dengan nada setengah oktaf lebih tinggi, dan perlu digarisbawahi sekiranya umur anggota pansus yang bertanya ini jauh lebih muda dibandingkan beliau."..kayaknya bisa deh bertanya dengan pak wapres dengan nada yang lebih enak didengar dan kesantunan yang harusnya diperlihatkan anggota DPR di tv nasional", itulah yang saya pikirkan ketika melihat siaran langsung rapat pansus. Memang tak mengherankan kejadian ini, setelah beberapa orang diantaranya pernah mengeluarkan kata-kata mutiara seperti nama binatang atau makian layaknya bahasa konsolidasi biasa saat rapat. Mr. Boediono really made it, he didn't show that madness, the anger!
Ini hanya sebuah wujud apresiasi kedalaman mental seorang terdidik seperti Pak Boediono yang memang harus ditunjukkan sebagai pencitraan seorang pemimpin. Santai menaggapi kritisasi yang berbeda tipis terhadap arogansi dan elegi patah hati kaum oposisi, dan saat rapat berakhir pun beliau masih berjalan dengan kebersahajaannya menggoyang tangan dalam sebuah salam kepada anggota DPR yang 'mengeroyokinya' tadi.

Jumat, Januari 08, 2010

learn from universe

First day of January 2010, universe show us its school...
Bahkan di pengawal tahun 2010 pun alam memberikan contoh nyata untuk manusia bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan tidaklah mudah...mungkin bisa saya analogikan dengan seorang tukang sayur yang bermimpi menjadi kaya dan sukses, untuk mendapatkannya ia rela bangun jam 2 pagi setiap hari mencari sayuran dipasar dan untuk mencapai pasar ia harus mengayuh sepeda sepanjang belasan kilometer berkawan dengan dinginnya pagi. Bertahun-tahun dilakukan hanya untuk menjadi sukses dan kaya dalam jalan yang dipilihnya, jalan yang berat, panjang, penuh emosi dan tanda tanya apa ia akan sampai di impiannya?! Tapi ternyata mimpi memang butuh perjuangan panjang, kini tukang sayur tersebut bahkan telah memiliki pasar swalayan terkemuka di ibukota.
Inilah yang saya rasakan ketika mengawali tahun di Ujung Genteng Sukabumi Jawa barat, bermodal berita bahwa pantai disana sama indahnya dengan Lombok dan Bali kami melaju mencari arti dari berita yang beredar. Benar saja, setelah perjalanan 6 jam dari Bogor dengan menggunakan mobil, kami masih harus naik motor untuk mencapai lokasi pantai yang kami inginkan, untuk bisa sampai di pasir putih saya melalui pesisir pantai selama tiga puluh menit dan itu semua belum berakhir...kami semua masih harus meninggalkan motor dan berjalan kaki mendaki menuju pantai pasir putih. Perjalanan setengah jam dengan motor tidak datar begitu saja, medan yang dilalui pun dipenuhi tanaman, becek, tanpa petunjuk arah dan licin. Kami masih menanti keindahan yang dijanjikan dan tanpa sadar bahwa badan sudah setengah remuk akibat perjalanan Bogor - Ujung Genteng yang memang benar melelahkan...sampai pada akhirnya kami melihat ujung pasir putih di puncak jalan yang kami daki...6 jam + 30 menit + 10 menit bejalan + pantai pasir putih = terbayar !
Pantai yang private tanpa ada pembatas selain langit dan pasir. Subhanallah.

tersirat alam telah mengajarkan kita melalui banyak cara, bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai harapan, kita harus ikhlas melalui perjalanan panjang dan melelahkan dan itu semua akan terbayar jika sudah terlalui karena nantinya di ujung pencapaian kita akan lantang berkata, i did it!

NO THANX!

Bukan bermaksud tidak menghargai para perokok di luar sana yang sama sekali belum berempati pada orang disekelilingnya yang tidak merokok, saya benar-benar hilang akal kalau yang melakukan hal ini justru para petinggi negara, pejabat, sarjana, wartawan, dan semua orang yang mengakui dirinya kaum teredukasi. Adalah saat saya bekerja sebagai reporter, kedongkolan mendalam serius saya derita karena decak kagum saya terhadap 'kebodohan permanen' yang teman-teman satu profesi lakukan yaitu merokok sembarangan! memang larangan merokok bukan terdestinasi untuk tidak merokok sama sekali, tapi hanya mengatur tempat merokok...tapi kenapa beberapa oknum ini yang boleh saya tulis adalah rekan kerja saya (yang katanya adalah 'gudang ilmu a.k.a perpustakaan berjalan) yang jelas tahu ada perda Kawasan Dilarang Merokok (KDM) jarang menggubris aturan ini. KDM hanya mengatur bukan melarang merokok sama sekali, koq hal yang sama sekali tidak rumit ini susah diapresiasi ya???

Yayayaya...sekelumit sisipan cerita tadi tidak akan saya bahas lebih lanjut karena hanya menambah deret kesal tanpa ada data pencilan. Merokok memang pilihan, tapi pilihan ini tidak harus dong berbenturan dengan hak orang menghirup udara tanpa racun nikotin. Smoke Smart, (even u never look smart with smoke though). Saat liputan di Mabes Polri suatu hari, salah satu wartawan sempat bertanya "...din, syarat jadi pacar atau suami kamu apa siy?, yang saya tahu kamu belum punya pacar ya..?" dengan lantang saya menjawab "..yang boleh mas tahu cuma syarat awal ya,,,dia ga ngerokok!" dia pun tertohok menahan tawa karna disana kumpulan wartawan sibuk ngebul semua. "Waduh padahal ada yg mau aku comblangin lho, anak anggota DPR lagi cari istri, mmmmmmmm tapi dia ngerokok din, mau?" i said NO THANX!

Selasa, Desember 15, 2009

pack the unpacked

I bet it took a while, the freedom that make her smile
Change is the best way that she can get, move and run faster without regrets
With her suitcase walk in the same track, run in the track ball make her always look back
Suitcase is not enough, she already have the valise to make her tough
So, she needs a footlocker, pack all the unfinished 'dress' it could be better
Pack the unpacked sister... it may a remedy but it tasted bitter

Selasa, Desember 08, 2009

Tapos:antara susu dan pulsa

Mengetahui tempat yang akan saya datangi adalah sebuah kecamatan baru di Depok memang bukan sesuatu yang esensial dalam posting ini, Tapos adalah satu dari lima kecamatan baru hasil pemekaran sehingga jumlah kecamatan di salah satu kota termuda di provinsi Jawa Barat ini menjadi sebelas. Ke Tapos pula, saya dan beberapa rekan dari Ikatan Abang Mpok Depok (IKAM) di undang oleh Lembaga Kajian Pembangunan Daerah (LKPD) Kota Depok untuk ikut 'meramaikan' kegiatan program penyuluhan dan peningkatan kesehatan balita yang sudah rutin digelar. Saya tergiur untuk menyaksikan langsung kegiatan LKPD yang menggandeng salah satu BUMN sebagai satu bentuk CSR-nya ini, karena ada pembagian susu gratis untuk para balita. Everythings with milk and babies are gorgeous.
Menurut info yang saya dapat dari LKPD, rata-rata ibu yang memiliki balita di daerah Tapos adalah ibu-ibu muda seumuran saya. Saya tercengang lagi setelah tahu bahwa ibu-ibu muda ini rela menukar & menjual susu yang diberikan gratis dengan pulsa hp yang kini jadi kebutuhan primer diatas susu anak. Keingintahuan saya mendalam akan motif ibu-ibu muda ini bertindak irasional karena posisi susu anak sudah bisa digantikan pulsa hp yang mereka gunakan untuk sekedar beremeh-temeh dengan teman (sekali lagi mereka masih muda dan perlu bergaul dengan sebayanya), i got it!
Tapos, 29 Oktober 2009...saya & viqi (2008) juga gilang, merry, mumu, dan rizky (2009) tiba di tempat tujuan dengan tenda yang sudah siap terpasang. Dibawahnya berderet ibu-ibu kepanasan (yang memang masih muda) menggendong anak mereka plus ingus yang lupa terseka. "Dina...itu sudah banyak lho ibu-ibu yang datang, mereka kemarin bilang ke saya seneng kalau dilihat abang mpok depok..", itu kalimat pertama yang keluar dari pribadi yang penuh tauladan Ibu Novy (LKPD), sesaat setelah mobil kami terparkir di lahan kosong di depan tenda acara. Tatapan ibu-ibu ini terbalas dengan senyum kami yang sudah jadi 'trademark', karena memang target kami di datangkan adalah 'penggembira'. Tapi kalau memang ada efek menggembirakan dan memperngaruhi, saya rela tak tersubsidi waktu dan energi untuk bisa merubah pola pikir ibu-ibu yang berani menggadaikan gizi anak dengan kebutuhan sekunder belaka.
- Panitia Pelaksana (LKPD, PKK, dll) & IKAM -



- IKAM & generasi penerus yang akan membangun Tapos -

- jangan dituker pulsa ya bu...-
Mengerti bahwa pulsa dan hp sudah bukan lagi kebutuhan tersier yang menjadi tuntutan zaman, tapi inilah fakta bahwa pendidikan menentukan pola pikir dan sikap seseorang untuk hidupnya. Ibu-ibu muda ini mungkin rata-rata hanya berijazah maksimal SMA, tapi mensubstitusi kesehatan anak dengan sms & telepon juga menjadikan susu anak hanya angan-angan karena alasan ekonomi, benar tak masuk akal!!!
Tidak bijak memang menyalahkan realitas ekonomi secara agregat untuk kasus ini, tapi jika boleh berandai untuk sebuah solusi...si penanggung jawab pastinya adalah pendidikan dasar di rumah dari orang tua yang mengawal ibu-ibu muda ini yang tadinya adalah anak sama seperti anak-anak mereka saat ini. Solusi yang tidak terspesifikasi untuk kasus diatas, tapi masiv dampaknya untuk merubah pola pikir kebanyakan kita yang masih hidup mengatasnamakan gengsi, latah, dan ego. Semoga setelah program ini dijalankan rutin, ibu-ibu muda disini menyadari makna 'susu sehat sukses' dan mampu menghadiahi kota ini generasi yang sehat jiwa raga, Amin!


Jumat, November 27, 2009

A Rendezvous with Miss Universe 2009

October 10th 2009, A Date with Steffania Fernandez in Sakura Matsuri @ Hotel Nikko Jakarta
asri aldina & steffania fernandez
One Shot, they give a chance to be the moderator of the talkshow. For a new comer like me, its a huge moment. But i still have a question, why she didn't want to answer about MDGs question? mmm, maybe the 'queen' forgot to recall the 8 goals...
as antv reporter, i was conducted the talkshow

Senin, Juli 20, 2009

it's deep, personal (No.2)

when mine is taking.... i'm happy with the arrival of 'no beginning and ending'. i'm passionately determined to end this estrangement. i'm thinking straight that words can never do enough, when mine is taking (again) .... is all about the worst kind of suffering. i'm happy with the arrival of new chapter, i'm passionately determined to wrap this pain. i'm thinking straight that mine is taking.

Selasa, Juli 07, 2009

positioning positioning

Sebuah event tahunan berhasil tergelar pada tgl 4 - 7 juni 2009 yang lalu, bernama Gebyar Wisata Nusantara dimana seluruh kabupaten/kota di Indonesia berunjuk potensi akan budaya dan pariwisata yang dimiliki. Para duta pariwisata dari masing-masing daerah pun tak lupa dibawa sebagai spoke person dan daya tarik tertentu. Saya dan erwin (abang mpok depok 2008) terpukau dengan banyaknya duta-duta wisata yang hadir disana, keterpukauan ini juga berlanjut untuk niat seluruh dinas pariwisata setiap daerah demi mempercantik stand pameran mereka. Ada yang telah matang terkonsep ditambah anggaran menghias yang memadai ada juga yang dengan konsep serta anggaran seadanya. Dalam kacamata saya, exhibition ini benar-benar memperlihatkan daerah mana yang serius 'jualan' & menggarap pariwisatanya dengan baik dan daerah mana yang cuma menjadikan event ini tak kurang dari sebuah agenda semata.
Beberapa duta pariwisata seluruh Indonesia di Gebyar Wisata Nusantara 2009 di JCC Jakarta, 4 Juni 2009.

Why this posting called "positioning positioning"? i do care about my city & its tourism potency. Menyaksikan sendiri bagaimana beberapa kabupaten/kota yang menjadi peserta exhibition menggarap serius konsep 'jualan' mereka menggelitik pikiran ini untuk berproses dan memikirkan apa dan bagaimana seharusnya Kota Depok mengelola pariwisata dan menjadikan ilmu marketing sebagai dasar teori dalam mempromosikan potensi budaya dan wisata yang ada. Karena 'background' pendidikan saya adalah manajemen dengan konsentrasi marketing, saya paham konsep sederhana yang keluar dari mbah dewa-nya marketing Indonesia dan dunia Hermawan Kartajaya (HK). Dalam hal ini, orang-orang yang berkecimpung dalam mempromosikan pariwisata hendaknya mengerti konsep dasar pemasaran dari beliau, kalau memang punya niat besar untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai pendongkrak ekonomi masyarakat sepertinya teori HK bukan hal yang sulit diterapkan.

Teori STV triangle (Strategy, Tactic, Value) merupakan hal dasar yang kerap dieksekusi dalam suatu manajemen instansi/organisasi dalam 'berjualan'. Tanpa merendahkan nilai pariwisata, seni dan budaya sebagai komoditas belaka, saya menggunakan kata 'jualan' karena memang dalam era ekonomi kreatif sebagai orientasi perekonomian dunia saat ini, all we need to do is selling the concept in a right direction. Pariwisata, seni, dan budaya berdiri sebagai ujung tombak perekonomian disaat sektor-sektor lain kolaps karena krisis. Depok juga harus mampu menerapkan teori ini dalam mengembangkan sektor pariwisata nya karena di sisi lain kota/daerah lain seperti jakarta, bandung, garut, kuningan, padang, solo, jogja, bali, lombok, dan yang lainnya telah melaksanakannya dengan baik.

erwin (abang depok 2008), anggie (mojang kab.garut 2008), andi (jajaka kab.garut 2008), and me (mpok depok 2008). 'the spirit of youth of west java - from west to south'

Di dalam komponen STV, lingkaran strategy terdiri dari segmentation, targeting dan positioning. Saya tak melihat segmentation dan targeting sebagai jawaban pembenahan karena memang segmen dan target pasar Depok sama dengan kota lainnya, yaitu masyarakat lokal, nasional, dan dunia. Positioning yang tepat merupakan hal yang patut di lakukan Depok untuk menaikan 'pangkat' sektor pariwisata lokal. Bila Bandung sudah terstigma dalam posisi 'paris van java', jakarta dengan tagline 'enjoy jakarta', garut yang tersohor dengan 'domba garut'-nya, bali dengan (u name it, bali has everything), semua kota yang pariwisata nya maju pasti telah melakukan positioning dengan tepat. Sudah terlanjur dikenal dengan istilah 'belanda depok' atau pun dengan sebuah mesjid yang ternama Kubah Emas (Mesjid Dian Al-Mahri, tujuh dari mesjid berkubah emas di dunia) , Depok juga merupakan kota pendidikan dimana Universitas Indonesia berada, Belimbing Dewa yang telah 'esteblished' menjadi 'icon' juga merupakan potensi agrowisata yang tengah digembar-gemborkan. Namun jajaran potensi ini belum lah cukup tanpa positioning yang jelas. Akan 'dipasarkan' sebagai kota yang bagaimanakah masih menjadi pertanyaan karena memang kota warisan Cornelis Chastelein ini memiliki eksotika sejarah yang belum dijadikan daya pikat wisata.

Konon berawal dari seorang Belanda Cornelis Chastelein masyarakat Depok terbentuk dari 12 marga (Bacas, Isakh, Jacob, Joseph, Jonathans, Loen, laurens, Samuel, Soedira, Tholense & Zadokh). Dari asal-usul nya saja kota ini sebenarnya sudah memiliki posisi sebagai kota wisata sejarah dengan nuansa kolonial lengkap dengan bangunan-bangunan tua khas Belanda. Ditambah lagi keunikan betawi nan kental secara kultural dengan budaya sunda sebagai jati diri administratif membuat kota ini semakin heterogen dan berkarakter. Mungkin sumberdaya pemerintah dan para stakeholder pariwisata, seni dan budaya kota ini harus belajar dari negeri seberang Singapore yang memang tak memiliki banyak keindahan 'mother nature' yang siap dijual namun dengan kejelian menangkap kebutuhan pasar akan arti wisata mereka berubah menjadi negeri impian para pelancong dunia.

Kota ini harus hati - hati dalam melakukan positioning, karena kalau salah bukan saja dicap sebagai sekedar sub-urban yang serupa dengan Bekasi tetapi juga kota yang 'abu-abu'. Topeng Cisalak dan Gong Sibolong adalah unsur intrinsik seni yang harus dijadikan dewa dalam setiap agenda wisata, karena memang kesenian inilah yang menjadi identitas salah satu kota termuda di Jawa Barat ini. Dengan kenyataan sebagai kota dengan IPM tertinggi di Jawa Barat, saya optimis pemerintah dan seluruh jajarannya akan dengan pasti mentukan konsep positioning Kota Depok dengan bijak. Kearifan lokal dan kesantunan masyarakatnya sebagai bagian dari alat pendorong majunya pariwisata Depok setelah manajemen marketing diaplikasikan dengan sempurna, seyogyanya mampu mencitrakan kota ini sebagai miniatur Indonesia yang siap 'dijual'. Dyne with love.